![]() |
| MENGUPAH ORANG MENGERJAKAN MANASIK HAJI |
📕 MENGUPAH ORANG
MENGERJAKAN MANASIK HAJI
📝 Oleh: THAIFAH MUTAFAQQIHINA FIDDIN[1]
Bagaimana hukumnya mengupah orang untuk pelaksanaan ibadah manasik haji?
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
🔵 Jawaban :
Haji merupakan ibadah badaniyah yang pelaksanaannya tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Dengan kata lain mesti dilaksanakan berdasarkan usaha dan kemampuan masing-masing. Allah Swt berfirman:
{وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى}
Bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh (balasan) selain apa yang telah diusahakannya. (QS An-Najm [53]: 39).
Berdasarkan ayat tersebut, seseorang tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari amal yang diusahakannya sendiri. Oleh karena itu dalam ibadah haji disyaratkan istitha'ah (kemampuan).
{وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا}
Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksana-kan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu. (Qs Ali Imran [3]: 97)
Selain itu dituntut untuk melaksanakan ibadah haji dengan sempurna sesuai dengan manasik haji yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw
{وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ}
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. (Qs Al-Baqarah [2]: 196)
Namun tidak dapat dipungkiri dalam pelaksanaannya seringkali jama'ah haji menemukan uzur atau kesulitan, sehingga tidak dapat melaksanakan haji dengan sempurna. Maka dalam hal ini syariat telah memberikan fasilitas rukhshah (keringanan). Rasulullah Saw bersabda:
وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian. (Hr al-Bukhari)[2]
Dalam beberapa kasus, Rasulullah Saw memberikan keringanan kepada para shahabat yang mendapati uzur kesulitan dalam pelaksanaan manasik haji, antara lain:
Thawaf sambil naik kendaraan atau dituntun
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ شَكَوْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَشْتَكِي قَالَ طُوفِي مِنْ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنْتِ رَاكِبَةٌ
Dari Ummu Salamah Ra berkata, 'Saya mengadu kepada Rasulullah Saw bahwasanya saya sakit.' Beliau bersabda, 'Lakukanlah thawaf dengan berkendaraan di belakang orang-orang.' (Lihat Fath al-Baari, III: 49)[3]
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ وَهُوَ يَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ بِإِنْسَانٍ رَبَطَ يَدَهُ إِلَى إِنْسَانٍ بِسَيْرٍ أَوْ بِخَيْطٍ أَوْ بِشَيْءٍ غَيْرِ ذَلِكَ فَقَطَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ قُدْهُ بِيَدِهِ .
Dari Ibnu Abbas Ra bahwasanya Nabi Saw -ketika thawaf- melewati seorang yang menuntun seseorang dengan mengikat tangannya pada tangan lainnya dengan tali. Beliau bersabda, 'Tuntunlah dia dengan tangannya. (Lihat Fath al-Baari, III: 482)[4]
Jama' melontar jumroh
عَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ لِرِعَاءِ الْإِبِلِ فِي الْبَيْتُوتَةِ عَنْ مِنًى يَرْمُونَ يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ يَرْمُونَ الْغَدَ، أَوْ مِنْ بَعْدِ الْغَدِ الْيَوْمَيْنِ، ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ.
Dari Ashim bin Adi bahwasanya Rasulullah Saw memberl rukhsoh (kelonggaran) bagi pengembala unta untuk tidak mabit di Mina. Mereka melontar pada hari nahar, kemudian mereka melontar untuk hari esoknya dan esok lusa, untuk dua hari kemudian mereka melontar lagi pada hari nafar. (Hr Abu Dawud)[5]
عَنْ أَبِي البَدَّاحِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: رَخَّصَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرِعَاءِ الإِبِلِ فِي البَيْتُوتَةِ: أَنْ يَرْمُوا يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُوا رَمْيَ يَوْمَيْنِ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ فَيَرْمُونَهُ فِي أَحَدِهِمَا
Dari Abu al Baddah bin Ashim bin Adi dari ayahnya bahwasanya ia berkata, Rasulullah Saw memberi kelonggaran (rukhsoh) bagi pengembala unta untuk tidak mabit di Mina, melontar pada hari nahar, kemudian menjamak melontar pada dua hari setelah hari nahar lalu mereka melontarnya pada salah satu diantara keduanya. (Hr At Tirmidzi)[6]
Kesimpulan:
Pelaksanaan ibadah haji harus dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Mewakilkan atau membayar orang lain dalam pelaksanaan ibadah haji tidak disyariatkan.
_Wallahu a’lam bi al-shawwab!_
📚 Majalah Risalah no. 02 thn. 61, Syawwal 1444 H/ Mei 2023, hlm. 36-37.
Gabung Channel: https://t.me/ensiklopediafatwaulamapersis
#satuabadpersis
#ensiklopediafatawaulamapersis
#majalahrisalah #sembelihan #qurban
[1] KH. Zae Nandang, KH. U. Jalaluddin, KH. M. Rahmat Najieb, KH. Uus M. Ruhiat, KH. Wawan Shotwan S., KH. Wawa Suryana, KH. Agus Ridwan, Ust. Amin Muchtar, Ust. H. M. Nurdin, Ust. Ginanjar Nugraha, Ust. H. Dede Tasmara, Ust. Latief Awaludin, Ust. Hamdan Abu Nabhan, Ust. Gungun Abdul Basith.
[2] Shahih. Al-Bukhari (7288),
[3] Shahih. Malik (1/370-371), Abdurrazaq (9021), Al-Bukhari (464), (1619), (1633), (4853), Muslim (2238), Abu Dawud (1882), al-Nasai (5/223), al-Nasai al-Kubra (3903), Ibnu majah (2961), Ibnu Khuzaimah (523), (2776), Ibnu Hiban (3830), (3833), al-Thabrani al-Kabir (804), al-Baihaqi al-Kubra (5/78, 5/101), Ma’rifat al-Sunan (7/261), al-Baghawi (1911), Ibnu Khuzaimah (523).
[4] Shahih, al-Bukhari (1620).
[5] Shahih. Malik (1/408), Ahmad (23775), al-Darimi (1897), al-Bukhari al-Tarikh al-Kabir (6/477), Abu dawud (1975), Ibnu Majah (3037), al-Nasai (5/273), al-Nasai al-Kubra (4178), Abu Ya’la (6836), Ibnu Khuzaimah (2975), (2979), al-Thabrani al-Kabir (17/453), al-Hakim (1/478), al-Baihaqi (5/150), Ibnu Abdil Bar (17/253), al-Baghawi (1970), Ibn al-Atsir Ushud al-Ghabah (3/114).
[6] Shahih. Al-Tirmidzi (955).


0 comments:
Posting Komentar