![]() |
| SHAUM AYYAMUL-BIDH PADA BULAN DZULHIJJAH |
📕 *SHAUM AYYAMUL-BIDH PADA BULAN DZULHIJJAH*
📝 Oleh Majelis Ifta
🔴 _*Apakah puasa 3 hari setiap bulan harus di tanggal 13, 14 dan 15? Lalu bagaimana ketika tanggal 13 Dzulhijjah, apakah puasanya jadi tanggal 14, 15 dan 16? (Haris-Jakarta)*_
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
🔵 JAWAB :
Shaum sunat ada yang ditetapkan harinya (Senin Kamis), ada yang ditetapkan tanggalnya (Arafah, Tasu’a Asyura, Ayyamul bidh), shaum selang sehari (Shaum Dawud).
Berkaitan shaum 3 hari setiap bulan ada yang tidak ditetapkan hari dan tanggalnya. Sebagaimana keterangan berikut:
عَنْ يَزِيدَ الرِّشْكِ، قَالَ: سَمِعْتُ مُعَاذَةَ قَالَتْ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ؟ قَالَتْ: كَانَ لاَ يُبَالِي مِنْ أَيِّهِ صَامَ.
Dari Yazid al-Risyk, dia berkata, saya mendengar Mu’adzah berkata, saya bertanya kepada Aisyah, apakah Rasulullah saw. Suka berpuasa tiga hari pada setiap bulan? Aisyah menjawab, “Iya”. Saya bertanya, “Di bagian bulan yang mana berliau berpuasa?” Dia menjawab, “Beliau tidak peduli pada bagian mana beliau berpuasa.” (HR. al-Tirmidzi)[1]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kekasihku (Nabi saw) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang aku tidak boleh meninggalkannya hingga mati, yaitu shaum tiga hari tiap bulan, shalat dhuha dan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari)[2]
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ، لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ: «بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَبِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ»
Dari Abu Darda, katanya, “Kekasihku saw mewasiatkan kepadaku untuk melakukan tiga hal, yaitu agar aku tidak meninggalkan selama hidupku, puasa tiga hari tiap bulan, shalat dhuha dna tidak tidur sebelum shalat witir.” (HR. Muslim)[3]
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةٍ لَا أَدَعُهُنَّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى أَبَدًا: «أَوْصَانِي بِصَلَاةِ الضُّحَى، وَبِالْوَتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ، وَبِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ»
Dari Abu Dzar dia berkata, “Kekasihku saw. Berwasiat tiga hal kepadaku – insya Allah Ta’ala tidak akan ku tinggalkan selamanya-. Beliau berwasiat kepadaku agar melakukan shalat dhuha, shalat witir sebelum tidur dan puasa tiga hari setiap bulan.” (HR. al-Nasai)[4]
Ada pula shaum 3 hari tiap bulan yang ditetapkan tanggalnya yaitu shaum ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15). Sebagimana keterangan berikut:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ، وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ»
Dari Jarir bin Abdullah, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa Dahr dan puasa hari-hari Bidh (putih cerah karena sinar rembulan), adalah waktu pagi tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR. al-Nasai, no. 2377)[5]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَرْنَبٍ قَدْ شَوَاهَا فَوَضَعَهَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَمْسَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَأْكُلْ وَأَمَرَ الْقَوْمَ أَنْ يَأْكُلُوا وَأَمْسَكَ الْأَعْرَابِيُّ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَأْكُلَ قَالَ إِنِّي صَائِمٌ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ قَالَ إِنْ كُنْتَ صَائِمًا فَصُمْ الْغُرَّ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, telah datang seorang badui kepada Nabi saw membawa kelinci yang telah ia bakar, kemudian ia meletakkannya di hadapan beliau. Kemudian rasulullah saw. Menahan diri tidak memakannya, dan beliau memerintahkan orang-orang agar memakannya, dan orang badui tersebut menahan untuk makan. Kemudian Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk makan?” Ia berkata, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa tiga hari dari setiap bulan.” Beliau bersabda, “Apabila engkau berpuasa maka berpuasalah pada hari-hari putih.” (HR. al-Nasai)[6]
عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ.
Dari Musa bin Thalhah dia berkata, saya mendengar Abu Dzar berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzar, jika kamu ingin berpuasa tiga hari pada tiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal ke tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR. Tidmidzi)[7]
Jika shaum ayyamul bidh bertepatan dengan hari tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah maka pada hari itu terlarang shaum. Sebagaimana berikut:
عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»
Dari Nubaisyah al-Hudzali berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum serta dzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)[8]
عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ
Dari Aisyah dan juga dari Ibnu Umar, keduanya berkata, “Tidak dibolehkan berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu.” (HR. Bukhari)[9]
Dengan demikian shaum ayyamul bidh pada bulan Dzulhijjah hanya dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15.[10]
_Wallahu a’lam bi al-shawwab!_
📚 Majalah Risalah No. 07, Th. 59, Shafar-Rabi’ul Awwal 1443/ Oktober 2021, hal. 34-36.
Gabung Channel: https://t.me/ensiklopediafatwaulamapersis
#satuabadpersis
#ensiklopediafatawaulamapersis
#majalahrisalah #ibadah #shaum #puasa
[1] SHAHIH. Al-Tirmidzi (763), Ibnu Khuzaimah (2130), al-Thayalisi (1677), Abu Awanah (2933), al-Baghawi (1802).
[2] SHAHIH. Al-Bukhari (1178).
[3] SHAHIH. Muslim (722), al-Baihaqi dalam al-Kubra (4896).
[4] SHAHIH. Ahmad (21518), Al-Nasai (2404), al-Nasai dalam al-Kubra (2725), Ibnu Khuzaimah (1083, 1221, 2122), al-Thabrani dalam al-Ausath (9095).
[5] SHAHIH. Al-Nasai (2420), al-Nasai dalam al-Kubra (2741), Abu Ya’la (7504), al-Thabrani al-Kabir (2499), al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (3853).
[6] HASAN LIGHAIRIH. Al-Nasai (2420, 4310), dalam al-Kubra (2742, 4803). Abdul Malik bin Umair bin Suwaid al-Lakhmi, berubah hafalannya dan kadang-kadang melakukan tadlis, namun dikuatkan oleh hadis sebelumnya.
[7] SHAHIH. Al-Thayalisi (475), Aburrazaq (7873), Ahmad (5/152), al-Tirmidzi (761), al-nasai (4/222), Ibnu Khuzaimah (2128), Ibnu Hiban (3655), al-Baihaqi (4/294).
[8] SHAHIH. Ahmad (20722), Muslim (1141).
[9] SHAHIH. Al-Bukhari (1859).
[10] Majalah Risalah No. 07, Th. 59, Shafar-Rabi’ul Awwal 1443/ Oktober 2021, hal. 34-36.


0 comments:
Posting Komentar