Minggu, 28 Mei 2023

 

SHAUM AYYAMUL-BIDH PADA BULAN DZULHIJJAH

📕 *SHAUM AYYAMUL-BIDH PADA BULAN DZULHIJJAH*

 

📝 Oleh Majelis Ifta

 

🔴 _*Apakah puasa 3 hari setiap bulan harus di tanggal 13, 14 dan 15? Lalu bagaimana ketika tanggal 13 Dzulhijjah, apakah puasanya jadi tanggal 14, 15 dan 16? (Haris-Jakarta)*_

 

 

🔵 JAWAB :

 

Shaum sunat ada yang ditetapkan harinya (Senin Kamis), ada yang ditetapkan tanggalnya (Arafah, Tasu’a Asyura, Ayyamul bidh), shaum selang sehari (Shaum Dawud).

 

Berkaitan shaum 3 hari setiap bulan ada yang tidak ditetapkan hari dan tanggalnya. Sebagaimana keterangan berikut:

 

عَنْ يَزِيدَ الرِّشْكِ، قَالَ: سَمِعْتُ مُعَاذَةَ قَالَتْ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ؟ قَالَتْ: كَانَ لاَ يُبَالِي مِنْ أَيِّهِ صَامَ.

 

Dari Yazid al-Risyk, dia berkata, saya mendengar Mu’adzah berkata, saya bertanya kepada Aisyah, apakah Rasulullah saw. Suka berpuasa tiga hari pada setiap bulan? Aisyah menjawab, “Iya”. Saya bertanya, “Di bagian bulan yang mana berliau berpuasa?” Dia menjawab, “Beliau tidak peduli pada bagian mana beliau berpuasa.” (HR. al-Tirmidzi)[1]

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ.

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kekasihku (Nabi saw) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang aku tidak boleh meninggalkannya hingga mati, yaitu shaum tiga hari tiap bulan, shalat dhuha dan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari)[2]

 

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ، لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ: «بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَبِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ»

 

Dari Abu Darda, katanya, “Kekasihku saw mewasiatkan kepadaku untuk melakukan tiga hal, yaitu agar aku tidak meninggalkan selama hidupku, puasa tiga hari tiap bulan, shalat dhuha dna tidak tidur sebelum shalat witir.” (HR. Muslim)[3]

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةٍ لَا أَدَعُهُنَّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى أَبَدًا: «أَوْصَانِي بِصَلَاةِ الضُّحَى، وَبِالْوَتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ، وَبِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ»

 

Dari Abu Dzar dia berkata, “Kekasihku saw. Berwasiat tiga hal kepadaku – insya Allah Ta’ala tidak akan ku tinggalkan selamanya-. Beliau berwasiat kepadaku agar melakukan shalat dhuha, shalat witir sebelum tidur dan puasa tiga hari setiap bulan.” (HR. al-Nasai)[4]

 

Ada pula shaum 3 hari tiap bulan yang ditetapkan tanggalnya yaitu shaum ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15). Sebagimana keterangan berikut:

 

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ، وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ»

 

Dari Jarir bin Abdullah, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa Dahr dan puasa hari-hari Bidh (putih cerah karena sinar rembulan), adalah waktu pagi tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR. al-Nasai, no. 2377)[5]

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَرْنَبٍ قَدْ شَوَاهَا فَوَضَعَهَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَمْسَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَأْكُلْ وَأَمَرَ الْقَوْمَ أَنْ يَأْكُلُوا وَأَمْسَكَ الْأَعْرَابِيُّ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَأْكُلَ قَالَ إِنِّي صَائِمٌ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ قَالَ إِنْ كُنْتَ صَائِمًا فَصُمْ الْغُرَّ

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata, telah datang seorang badui kepada Nabi saw membawa kelinci yang telah ia bakar, kemudian ia meletakkannya di hadapan beliau. Kemudian rasulullah saw. Menahan diri tidak memakannya, dan beliau memerintahkan orang-orang agar memakannya, dan orang badui tersebut menahan untuk makan. Kemudian Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk makan?” Ia berkata, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa tiga hari dari setiap bulan.” Beliau bersabda, “Apabila engkau berpuasa maka berpuasalah pada hari-hari putih.” (HR. al-Nasai)[6]

 

عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ.

 

Dari Musa bin Thalhah dia berkata, saya mendengar Abu Dzar berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzar, jika kamu ingin berpuasa tiga hari pada tiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal ke tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR. Tidmidzi)[7]

 

Jika shaum ayyamul bidh bertepatan dengan hari tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah maka pada hari itu terlarang shaum. Sebagaimana berikut:

 

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»

 

Dari Nubaisyah al-Hudzali berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum serta dzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)[8]

 

عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

 

Dari Aisyah dan juga dari Ibnu Umar, keduanya berkata, “Tidak dibolehkan berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu.” (HR. Bukhari)[9]

 

Dengan demikian shaum ayyamul bidh pada bulan Dzulhijjah hanya dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15.[10]

 

_Wallahu a’lam bi al-shawwab!_

 

📚 Majalah Risalah No. 07, Th. 59, Shafar-Rabi’ul Awwal 1443/ Oktober 2021, hal. 34-36.

 

Gabung Channel: https://t.me/ensiklopediafatwaulamapersis

 

#satuabadpersis

#ensiklopediafatawaulamapersis

#majalahrisalah #ibadah #shaum #puasa

 



[1] SHAHIH. Al-Tirmidzi (763), Ibnu Khuzaimah (2130), al-Thayalisi (1677), Abu Awanah (2933), al-Baghawi (1802).

[2] SHAHIH. Al-Bukhari (1178).

[3] SHAHIH. Muslim (722), al-Baihaqi dalam al-Kubra (4896).

[4] SHAHIH. Ahmad (21518), Al-Nasai (2404), al-Nasai dalam al-Kubra (2725), Ibnu Khuzaimah (1083, 1221, 2122), al-Thabrani dalam al-Ausath (9095).

[5] SHAHIH. Al-Nasai (2420), al-Nasai dalam al-Kubra (2741), Abu Ya’la (7504), al-Thabrani al-Kabir (2499), al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (3853).

[6] HASAN LIGHAIRIH. Al-Nasai (2420, 4310), dalam al-Kubra (2742, 4803). Abdul Malik bin Umair bin Suwaid al-Lakhmi, berubah hafalannya dan kadang-kadang melakukan tadlis, namun dikuatkan oleh hadis sebelumnya.

[7] SHAHIH. Al-Thayalisi (475), Aburrazaq (7873), Ahmad (5/152), al-Tirmidzi (761), al-nasai (4/222), Ibnu Khuzaimah (2128), Ibnu Hiban (3655), al-Baihaqi (4/294).

[8] SHAHIH. Ahmad (20722), Muslim (1141).

[9] SHAHIH. Al-Bukhari (1859).

[10] Majalah Risalah No. 07, Th. 59, Shafar-Rabi’ul Awwal 1443/ Oktober 2021, hal. 34-36.

 


 

SHALAT BERJAMAAH DI TEMPAT TERPISAH

📕 *SHALAT BERJAMAAH DI TEMPAT TERPISAH*

 

📝 Oleh Majelis Ifta

 

🔴 _*Ada masjid di tempat kami terdiri dari dua lantai, ruang utama shalat ada di lantai dua sedangkan lantai satu dipakai umum, ketika shalat lima waktu terdapat satu orang atau terkadang dua atau tiga karena uzur tidak bisa naik ke atas, sehingga shalat di bawah sendiri, berdua atau bertiga:*_

1.       _*Bagaimana hokum shalat berjamaah bagi orang tersebut yang terpisah dengan shaf di atas yang masih kosong?*_
2.       _*Bagaimana pula hukumnya orang yang tidak uzur ikutan shalat di bawah bersama dengan yang uzur tersebut?(Abdul Haris)*_

 

 

🔵 JAWAB :

 

Di antara aturan shalat berjam’ah berdasarkan hadis-hadis adalah sebagai berikut:

 

Muluruskan Shaf

 

«سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ، مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ»

 

“Luruskan shaf kalian karena lurusnya shaf itu termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari Muslim)[1]

 

Merapatkan shaf

 

«رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ»

 

“Rapatkan shaf-shaf kalian, dekatkanlah jarak antara keduanya, dan sejajarkanlah antara leher-leher. Demia dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk ke dalam celah-celah shaf itu, tak ubahnya bagai anak kambing.” (HR. Abu Dawud)[2]

 

Menyambung Shaf

 

«أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ ». لَمْ يَقُلْ عِيسَى « بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ ». « وَلاَ تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ»

 

“Tegakkanlah shaf-shaf, sejajarkanlah antara Pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan lemah lembutlah terhadap kedua tangan saudara kalian, -Isa tidak menyebutkan; tangan saudara kalian- dan janganlah kalian membiarkan celah-celah itu untuk setan, barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutusnya maka Allah akan memutusnya.”

 

Abu Dawud berkata, “Abu Syajarah adalah Katsir bin Murrah.” Abu Dawud berkata, “Makna dari kalimat lemah lembutlah kalian terhadap tangan saudara kalian adalah, apabila ada seseorang yang baru datang dan masuk ke dalam shaf, maka yang lain hendaklah melemaskan pundaknya hingga dia dapat masuk ke dalam shaf.” (HR. Abu Dawud)[3]

 

Menyempurnakan Terlebih Dahulu Shaf Pertama

 

«أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ»

 

“Sesungguhnya shaf yang pertama, kemudian yang berikutnya. Kalaupun ada shaf yang kurang, maka hendaklah di shaf belakang.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)[4]

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا لِي أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ اسْكُنُوا فِي الصَّلَاةِ» قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَرَآنَا حَلَقًا فَقَالَ: «مَالِي أَرَاكُمْ عِزِينَ» قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ: «أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟» فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: «يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ»

 

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, “Mengapa aku melihat kalian mengangkat tangan kalian, seakan-akan ia adalah seekor kuda yang tidak bisa diam. Kalian diamlah di dalam shalat.” Perawi berkata, “Kemudian beliau keluar melewati kami, lalu beliau melihat kami bergerombol, maka beliau bersabda, “Mengapa aku melihat kalian bercerai berai.” Perawi berkata, “Kemudian Rasulullah keluar menemui kami seraya bersabda, “Mengapa kalian tidak berbaris sebagaimana Malaikat berbaris di sisi Rab-Nya? Maka Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rab-Nya?’ Beliau bersabda, ‘Mereka menyempurnakan barisan awal dan merapatkan barisan’.” (HR. Muslim)[5]

 

Tidak Boleh Shalat Sendirian Di Belakang Shaf

 

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ، فَوَقَفَ حَتَّى انْصَرَفَ الرَّجُلُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " اسْتَقْبِلْ صَلَاتَكَ، لَا صَلَاةَ (5) لِرَجُلٍ فَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ

 

“Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang laki-laki shalat di belakang shaf. Lalu beliau diam hingga orang itu selesai. Maka Rasulullah saw. Bersabda, ‘Menghadaplah kamu kepada shalatmu, karena tidak ada shalat bagi seorang laki-laki seorang diri di belakang shaf’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)[6]

 

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا صَلَّى وَحْدَهُ خَلْفَ الصَّفِّ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ صَلَاتَهُ»

 

“Bahwasanya Rasulullah saw. Melihat seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf, kemudian beliau memerintah orang itu untuk mengulangi shalatnya.” (HR. Ahmad)[7]

 

Dari keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa dalam shalat berjama’ah shaf harus lurus, rapat, bersambung, dan harus menyempurnakan shaf pertama kemudian selanjutnya.

 

Namun apabila ada uzur yang menimbulkan masyaqah sehingga tidak bisa menyambungkan shaf sebagaimana yang ditanyakan maka diperbolehkan. Akan tetapi berpisah dari shaf jama’ah tanpa ada masyaqah, maka tidak sah.[8]

 

_Wallahu a’lam bi al-shawwab!_

 

📚 Majalah Risalah No. 07, Th. 59, Shafar-Rabi’ul Awwal 1443/ Oktober 2021, hal. 32-34.

 

Gabung Channel: https://t.me/ensiklopediafatwaulamapersis

 

#satuabadpersis

#ensiklopediafatawaulamapersis

#majalahrisalah #ibadah #shalat #berjamaah

 



[1] SHAHIH. Ahmad (12231), Bukhari (723), Muslim (433), Ibnu Majah (993), Ibnu Hiban (2171, 2174). Lafadz imam Muslim.

[2] SHAHIH. Ahmad (13735), Abu Dawud (667), al-Nasai dalam al-Kubra (891).

[3] SHAHIH. Ahmad (5724), Abu Dawud (666).

[4] SHAHIH. Ahmad (12352), Abu Dawud (671), al-Nasai dalam al-Kubra (894), Ibnu Hiban (2155).

[5] SHAHIH. Ahmad (20964), Muslim (430), Ibnu Khuzaimah (1542).

[6] SHAHIH. Ahmad (16297), Ibnu Majah (871, 1003), Ibnu Khuzaimah (593, 667, 872, 1569), Ibnu HIban (1891, 2202, 2203), al-Baihaqi dalam al-Kubra (3/105), al-Thahawi dalam Syarah Musykil al-Atsar (3901), al-Thahawi dalam Syarh al-Ma’ani (1/394).

[7] SHAHIH LIGHAIRIH. Ahmad (18000), Abu Dawud (682), al-Tirmidzi (231), Al-Thayalisi (1201). ‘Amr bin Rasyid, Majhul hal, namun dikuatkan melalui jalur lain.

 


Postingan Populer

Pengikut

BTemplates.com

Tanya Jawab Masalah Agama Berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Instagram

Stay Connected

Follow us on Facebook

Popular Posts

Popular Posts