![]() |
| HUKUM MENDENGARKAN CERAMAH SESUDAH SHALAT GERHANA |
📕 _*HUKUM MENDENGARKAN CERAMAH SESUDAH SHALAT GERHANA*_
📝 Oleh : Majelis Istifta[1]
🔴 _*Apakah hokum mendengarkan ceramah sesudah shalat gerhana? Soalnya banyak/ ada jamaah yang langsung kabur sesudah shalat gerhana. Mohon penjelasannya ustadz. Jamaah via WA.*_
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
🔵 JAWAB :
Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya membuat judul “Bab khutbat al-Imam fi al-Kususf” dan Aisyah serta Asma berkata, Nabi saw berkhutbah.
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَكَبَّرَ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقَامَ وَلَمْ يَسْجُدْ وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى مِنْ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ وَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ أَدْنَى مِنْ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَالَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ هُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ
Dari Aisyah istri Nabi saw, ia berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Nabi saw. Beliau keluar menuju masjid, lalu orang-orang membuat barisan di belakang beliau, beliau lalu takbir dan membaca surat yang Panjang. Lalu beliau takbir dan ruku dengan ruku yang Panjang, lalu mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH dan berdiri tanpa sujud. Kemudian beliau membaca bacaan yang Panjang namun tidak sebagaimana bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku dengan ruku yang Panjang namun tidak sebagaimana ruku yang pertama, lalu mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH terus kemudian sujud. Setelah itu beliau melakukannya sepperti itu pada rakaat yang akhir hingga sempurnalah empat ruku dalam empat sujud. Dan matahari Nampak kembali sebelum shalat beliau selesai. Setelah itu beliau berdiri (menyampaikan khutbah) dengan memuji Allah dengan pujian yang pantas untuk-Nya, beliau bersabda, “Keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, gerhana tidak akan terjadi hanya karena mati atau hiduonya seseorang. Jika kalian melihat (gerhana) keduanya, maka bersegeralah mendirikan shalat. (HR. al-Bukhari)[2]
Berdasarkan keterangan hadis ini, dapat kita ambil kesimpulan:
1. Gerhana bulan atau matahari merupakan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah swt.
2. Cara shalat gerhana sebagaimana yang tercantum dalam hadis.
3. Imam disyariatkan berkhutbah sesudah shalat gerhana.
Adapun orang-orang yang sengaja meninggalkan khutbah atau tidak mendnegarkan khutbah setelah gerhana termasuk salah satu yang disebutkan pada hadis berikut:
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ
Dari Abu Waqid al-Laitsi, bahwa Rasulullah saw ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi saw dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi saw di mana satu di antaranya Nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi saw, sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sednag yang ketiga berbalik pergi, setelah Rasulullah saw selesai bermajelis, beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi ?” Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah melindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya.” (HR. al-Bukhari)[3].[4]
_Wallahu a’lam bi al-shawwab!_
📚 Majalah Risalah No. 05 Thn. 59, Dzulhijjah 1442 H – Muharram 1443 H/ Agustus 2021, hlm. 41-42.
Gabung Channel: https://t.me/ensiklopediafatwaulamapersis
#satuabadpersis
#ensiklopediafatawaulamapersis
#majalahrisalah #shalat #gerhana
[1] Majelis Istifta : H. M. Romli, H. Zae Nandang, H. Rahmat Najieb, H. Uus M. Ruhiat, H. Wawa Suryana, H. U. Jalaluddin, Amin Muchtar.
[2] SHAHIH. AL-Bukhari (1046).
[3] SHAHIH. Al-Bukhari (66).
[4] Majalah Risalah No. 05 Thn. 59, Dzulhijjah 1442 H – Muharram 1443 H/ Agustus 2021, hlm. 41-42 dengan tema “Hukum Mendengarkan ceramah sesudah shalat gerhana”.


0 comments:
Posting Komentar