![]() |
| SYARIAT SHALAT GHAIB |
📕 _*SYARIAT SHALAT GHAIB*_
📝 Oleh : Majelis Istifta[1]
🔴 _*Pernah satu waktu di masjid yang sama sebelum shalat jum’at/ sebelum khatib ceramah diadakan shalat ghaib untuk salah satu ulama besar di Indonesia yang meninggal dunia di Jakarta padahal di sana juga banyak yang menyalatkan. Diteruskan dengan tahlilan sambil berdiri. Saya ikut shalat, tapi tidak ikut tahlilan (diam saja sambil berdiri). Apakah perbuatan saya benar? Shalah ghaib itu harus dilakukan dalam keadaan seperti apa? (Jamaah via WA)*_
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
🔵 JAWAB :
Shalat jenazah ada beberapa macam; Pertama, Shalat jenazah yang ada di hadapan sebelum dimakamkan.
عَنْ أَبِيْ غَالِبٍ، قَالَ: شَهِدْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى عَلَى جِنَازَةِ رَجُلٍ، فَقَامَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَلَمَّا رُفِعَتْ أُتِيَ بِجِنَازَةِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ أَوْ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقِيلَ لَهُ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، هَذِهِ جِنَازَةُ فُلَانَةَ ابْنَةِ فُلَانٍ، فَصَلِّ عَلَيْهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا، فَقَامَ وَسَطَهَا وَفِينَا الْعَلَاءُ بْنُ زِيَادٍ الْعَدَوِيُّ، فَلَمَّا رَأَى اخْتِلَافَ قِيَامِهِ عَلَى الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، قَالَ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنَ الرَّجُلِ حَيْثُ قُمْتَ، وَمِنَ الْمَرْأَةِ حَيْثُ قُمْتَ؟ قَالَ: " نَعَمْ "
Dari Abu Ghalib, ia berkata, “Aku pernah menyaksikan Anas bin Malik menyalati jenazah seorang laki-laki, lalu ia berdiri di arah kepalanya. Ketika jenazah itu diangkat, disodorkan kepadanya jenazah perempuan, lalu ia berdiri di tengahnya. Di antara kami ada al-Ala bin Ziyad al-Adawi. Ketika al-Ala melihat perbedaan posisi berdiri Anas ketika menyalati jenazah laki-laki dan perempuan, ia bertanya, ‘Wahai Abu hamzah, demikianlah Rasulullah saw. Menyalati jenazah laki-laki sebagaimana engkau berdiiri dan menyalati jenazah perempuan sebagaimana engkau berdiri? Anas menjawab, ‘Ya’.” (HR. Ahmad)[2]
Kedua, shalat jenazah di atas kuburan, sesuai dengan contoh Rasulullah saw.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ،قَالَ: انْتَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَبْرٍ رَطْبٍ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، وَصَفُّوا خَلْفَهُ، وَكَبَّرَ أَرْبَعًا
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah saw. Pernah menuju kuburan yang masih basah, lalu beliau menyalatinya dan kami bershaf di belakangnya, dan beliau takbir empat kali.” (HR. Muslim)[3]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ - أَوْ شَابًّا - فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَ عَنْهَا - أَوْ عَنْهُ - فَقَالُوا: مَاتَ، قَالَ: «أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي» قَالَ: فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا - أَوْ أَمْرَهُ - فَقَالَ: «دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ» فَدَلُّوهُ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ»
Dari Abu Hurairah, “Bahwasanya ada seorang perempuan hitam yang biasa mengurus masjid. Lalu Rasulullah saw. Kehilangan dia, lalu bertanya tentangnya. Para sahabat menjawab, ‘Ia telah meninggal’. Rasulullah bertanya lagi, ‘Mengapa kalian tidak memberitahu aku?’ Seolah-olah mereka menganggap kecil urusannya. Beliau bertanya, “Tunjukkanlah kepadaku kuburannya? Lalu mereka pun menyalatinya. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan atas penghuninya, sesungguhnya Allah azza wajalla akan menerangi mereka dengan shalatku ini’.” (Muttafaq alaih)[4]
Ketiga, shalat ghaib. Shalat ghaib adalah shalat jenazah untuk orang yang meninggal dunia di wilayah yang diyakini tidak ada yang menyalatinya. Keterangan yang kami dapatkan hanya satu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat ghaib sehubungan dengan wafatnya raja Najasyi karena tidak ada yang menyalatinya.
عن أبي هريرةَ: أن رسولَ الله -صلَّى الله عليه وسلم- نَعَى للناس النَّجاشيَّ اليومَ الذي مات فيه، وخرج بهم إلى المُصلَّى فصفَّ بهم وكبَّر أربعَ تكبيراتِ.
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. Mengumumkan kepada orang-orang (kematian) Najasyi pada hari kematiannya itu, kemudian beliau keluar (dari Mesjid) ke tempat terbuka lalu beliau menshaf mereka dan bertakbir empat kali takbir. (HR. Abu Dawud)[5]
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ مَوْتُ النَّجَاشِيِّ فَقَالَ: «إِنَّ أَخَاكُمْ مَاتَ بِغَيْرِ أَرْضِكُمْ، فَقُومُوا فَصَلُّوا عَلَيْهِ» فَصَفَّهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلْفَهُ وَصَلَّى عَلَيْهِ
Dari Hudzaifah bin Usaid, bahwa Nabi saw. Sampai kepada beliau (berita) kematian Najasyi, sabdanya, “Sesungguhnya saudara kamu itu telah mati bukan di negeri kamu, berdirilah kamu shalatilah ia. Kemudian beliau menshafkan mereka (para sahabat) di belakang beliau dan beliau menyalatinya.” (HR. Abu Dawud al-Thayalisi 1/144)[6]
Mengenai shalat ghaib untuk jenazah yang sebelumnya sudah dishalatkan, tidak dapat dikatakan baik berdasarkan syar’I, terlebih lagi ditambah dengan tahlilan. Sebab perbuatan yang demikian itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Adapun minta dido’akan untuk yang telah meninggal (tanpa shalat dan tahlilan), tentu saja diperbolehkan. Sebab agama memerintahkan untuk saling mendo’akan di antara kita.[7]
_Wallahu a’lam bi al-shawwab!_
📚 Majalah Risalah No. 05 Thn. 59, Dzulhijjah 1442 H – Muharram 1443 H/ Agustus 2021, hlm. 34-36.
Gabung Channel: https://t.me/ensiklopediafatwaulamapersis
#satuabadpersis
#ensiklopediafatawaulamapersis
#majalahrisalah #shalat #jenazah
[1] Majelis Istifta : H. M. Romli, H. Zae Nandang, H. Rahmat Najieb, H. Uus M. Ruhiat, H. Wawa Suryana, H. U. Jalaluddin, Amin Muchtar.
[2] SHAHIH. Ahmad )12180, 13114), al-Thayalisi (2149), Abu Dawud (3194), al-Tirmidzi (1034), Ibnu Majah (1494), al-Thahawi dalam Syarah Ma’ani al-Atsar (1/491), al-Baihaqi (4/33)
[3] SHAHIH. Muslim (954).
[4] SHAHIH. Al-Bukhari (458), Muslim (956). Nail al-Authar 6/185 no. 1410.
[5] SHAHIH. Malik (1/226-227), Ahmad (7147), al-Bukhari (1245), Muslim (951), Abu Dawud (3204), al-Tirmidzi (1543), al-Nasai (1971, 1972), Ibnu Majah (1534), Ibnu Hiban (3068, 3098).
[6] SHAHIH. Abu Dawud al-Thayalisi (1164), al-Bushiri dalam Ithaf al-Maharah (1923).
[7] Majalah Riasalah No. 05 Thn. 59, Dzulhijjah 1442 H – Muharram 1443 H/ Agustus 2021, hlm. 34-36.


0 comments:
Posting Komentar